Cerita Seram Pada Saat Mendaki Di Gunung Buthak

Cerita Horor Di Gunung Buthak, Penuh Dengan Teror Dan Gagal Untuk Mencapai Ke Puncak

Hai, sebelumnya perkenalkan, namaku adalah Idrus Samdani. Cerita horor tersebut terjadi di Gunung Buthak, Batu, Malang, Jawa Timur. 

Awal cerita, aku yang pergi untuk mendaki bersama dengan pacarku yang bernama Yuna Armanda. Kami hanya berdua saja yang mendaki.

Kami memilih mendaki untuk jalur pendakian gunung via Panderman. Kata orang, jalurnya yang tidak teralu sulit untuk didaki.

Kami berdua memulai pendakian tersebut pada pukul 16.00 WIB sore. Yuna terlihat sangat semangat sekali. Kami pun sampai di Pos 1 pada sekitar pukul Pos 17.00 WIB. Kami pun langsung melanjutkan untuk pendakian.

Setelah berjalan selama hampir sekitar 2 jam, kami bisa sampai di Pos 2. Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB malam. 

Yuna kali ini meminta untuk istirahat cukup lama. Dia mengeluh bahwa ia sedang sakit perut.

Aku pun membuatkannya secangkir teh manis. Tidak lama sakit perutnya hilang dan kami pun melanjutkan pendakian. Namun, aku seperti merasakan hal yang aneh. Perasaanku pun mendadak menjadi khawatir. "Kondisi aman Na?" tanyaku. "Aman, Sam," jawabnya.

Langkah kami mendaki tidak secepat pada saat sore tadi. Aku pun yang mengikuti irama berjalan Yuna. Tidak terasa, kami sudah berjalan selama hampir dua jam. Namun, belum ada tanda-tanda sama sekali kami akan tiba di Pos 3.

Waktu yang sudah menunjukkan pukul 21.15. Aku pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Na, bukannya kita sudah yang melewati pohon besar ini ya?" kataku. "Iya, Sam. Ini ada tanda yang sama, seperti yang aku lihat tadi juga," jawabnya.

Astaga, ternyata kalau selama ini kami dibuat bingung oleh penunggu Gunung Buthak. Kami terus yang diputar-putar di tempat yang sama. 

Rasa takut pun akhirnya mulai terasa hebat. Yuna mengaku melihat sekelebat sosok besar yang berada di balik pohon pinus besar. Ranting besar mendadak bisa jatuh tepat di hadapan kami. Yuna menjerit dan menangis.

"Sam, aku takut," kata Yuna. "Kamu lagi datang bulan, ya?" ucapku. "Iya, Sam. Maaf baru bilang," jawabnya. "Astaga, pantas saja kita yang dibuat diputar-putar, Na" kataku.

Tidak ingin untuk mengambil risiko lagi, aku pun memutuskan untuk mendirikan tenda di pinggir jalur pendakian. Aku dan Yuna tidur dalam ketakutan. Angin di luar tenda terdengar seperti sedang mengamuk. Kami berdua sama sekali tidak berani untuk keluar dari tenda. Sebab, kami merasakan ada hal tidak beres di luar tenda. Pagi harinya, aku dan Yuna memutuskan untuk langsung turun saja. Kondisi kami yang tidak memungkinkan untuk bisa sampai ke puncak Gunung Buthak.