Ditumpangi Arwah Gentayangan Pada Saat Pulang Kerja

Kisah Horor Pada Saat Aku Ditumpangi Arwah Gentayangan


Hai, namaku Indra Sandi. Ini adalah kisah horor mengenai ditumpangi arwah gentayangan yang pernah aku alami sendiri dan tidak bisa akan kulupakan sampai sekarang. Pekerjaanku membuat diriku terkadang yang harus untuk pulang larut malam. Beruntungnya, aku selalu yang membawa motor, sehingga tidak perlu untuk pusing lagi memikirkan bagaimana pulang ke rumah pada waktu malam hari. Hari itu, aku pulang tidak yang terlalu malam, sekitar jam sepuluh lebih. Memang lebih malam dari biasanya, tapi memang ada waktu-waktu di mana aku yang terkadang harus pulang di atas jam 12 malam.

Nah, di jalan ada satu jalur pulang yang bisa membuatku tiba di rumah lebih cepat. Namun, jalannya cukup sempit dan sepi pula. Oleh karena itu, aku hanya lewat jalan itu pada saat pulangnya yang tidak terlalu malam.

Saat itu, aku merasa kalau jam sepuluh malam masih belum terlalu larut malam, terlebih lagi aku sedang benar-benar sangat letih dan ingin cepat sampai rumah. Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk melewati jalan pintas tersebut. Sebelum memasuki gang sempit tersebut, di pinggir jalan aku melihat ada seorang perempuan cantik yang mengacungkan jempolnya, sebuah tanda untuk meminta tolong bisa agar menumpang.

Merasakan kasihan, aku pun memberhentikan motorku di sampingnya. Aku tidak terlalu melihat dengan jelas wajah perempuan tersebut karena dia yang menggunakan masker. Dia mengenakan kemeja putih bersih dan rok hitam selutut. Rambutnya lurus dengan panjang sebahu.

“Butuh tumpangan, mbak? Mau bareng sama saya?” tanyaku.Tanpa menjawab dia hanya mengangguk dan langsung duduk di belakang jok motorku. “Lumayan ada teman, jadinya tidak terlalu seram untuk melewati jalan ini,” pikirku dalam hati dan aku pun tidak menyangka sama sekali kalau aku ditumpangi arwah gentayangan.

Selama perjalanan, beberapa kali aku mencoba untuk memulai berbicara dan bertanya ke perempuan tersebut, tetapi dia hanya diam saja. “Ah, mungkin dia sedang lelah beraktivitas,” pikirku. Setelah sekitar 5 menit berkendara dengan keheningan di jalan yang sempit dan sepi itu, tiba-tiba perempuan tersebut menepuk pundakku.

“Berhenti di depan saja, mas,” ujarnya dengan suara yang sangat lembut. Aku pun sempat kebingungan karena sejauh mata memandang, tidak ada rumah yang terlihat. Sisi kanan dan kiri jalan hanya ada tanah kosong dan juga perkebunan.

“Di sini saja, mas,” ucapnya sambil menepuk pundakku dua kali.

Bulu kudukku langsung berdiri pada saat melihat ke arah kiri tempat kami berhenti. Bukan rumah yang aku lihat, melainkan tempat pemakaman dengan batu nisan yang tertata rapi. “Terima kasih, ya, mas,” kata dia sambil yang berjalan memasuki area kuburan dan tiba-tiba langsung menghilang.

Perempuan tersebut pun tiba-tiba hilang dari pandanganku. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung pergi kabur dari tempat itu secara cepat. Hingga sampai di rumah, aku masih merasa lemas dan jantung berdetak cepat karena tadi aku ditumpangi arwah gentayangan. “Aku tidak akan pulang lewat jalan itu lagi,” gumamku dalam hati.