Kisah Mistis Hantu Wewe Gombel Yang Hantui Bekas Hotel Terbengkalai Di Semarang
Asal-usul sosok mistis hantu wewe gombel ternyata berasal dari nama sebuah bukit di Semarang, Jawa Tengah. Di puncak bukit ini berdiri sebuah bangunan besar yang telah lama sekali terbengkalai. Bangunan kosong ini terlihat sangat suram, meskipun masih terdapat sisa-sisa kemegahan bangunan yang dulu merupakan sebuah hotel. Rimbunya pepohonan membuat bangunan bekas hotel ini tidak begitu terlihat.
Hotel ini dibangun pada tahun 1970-an, dan berjaya pada tahun 1980-an. Hotel ini tutup pada tahun 1982, karena adanya sengketa sang pemilik dengan bank. Bekas hotel terbengkalai tersebut berdiri di atas lahan seluas 12 hektare. Dulunya, hotel ini memiliki sebanyak 24 kamar, bar, meeting room, kolam renang dan 20-an kamar berdiri terpisah di dekat kolam renang.
Setelah ditutup, bekas hotel ini dijaga dan menjadi tempat tinggal keluarga salah satu satpam hotel tersebut. Satpam hotel meninggal di tempat itu pada tahun 2013 lalu, istri dan anaknya hingga kini masih tetap tinggal di salah satu kamar di lantai dua. Selain sengketa dengan pihak bank, tutupnya hotel ini juga dikarenakan sepinya tamu yang menginap. Konon banyak tamu yang mengalami kejadian mistis pada saat menginap di hotel tersebut.
Berdasarkan mitos yang berkembang, bangunan hotel tersebut berada di kawasan yang merupakan tempat demit atau hantu wewe gombel, sehingga bangunan tersebut memiliki atmosfer mistis yang sangat kuat. Wewe gombel merupakan jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan.
Dia mati akibat bunuh diri di sebuah pohon di kawasan bukit tersebut. Dedemit tersebut diyakini merupakan sosok perempuan yang bisa berubah wujud menjadi siapa saja. Konon, wewe gombel dipercaya suka sekali menculik anak-anak kecil dan menyembunyikannya. Anak-anak yang dicuri oleh dedemit ini adalah anak-anak yang kurang diperhatikan oleh orang tuanya.
Warga sekitar kawasan bukit ini percaya bahwa sebelum menculik anak-anak, biasanya dedemit tersebut akan menakut-nakuti orang tuanya terlebih dahulu. Saat diculik olehnya, anak-anak ini akan diberi makan berupa kotoran manusia.
Bunyi-bunyian dari Peralatan Dapur
Kotoran itu diubah sehingga terlihat seperti makanan yang sangat enak yang disukai oleh anak-anak. Agar anak-anak menjadi bisu dan tidak bisa menceritakan apa yang telah dialami ataupun bentuk dari dedemit yang menyeramkan tersebut. Untuk dapat menemukan anak yang diculiknya, keluarga harus berkeliling dan menyembunyikan bunyi-bunyian dari peralatan dapur. Bunyi itu sebagai musik mengiringi nyanyian dengan syair statis namun ritmis yang berbunyi “blek blek blek ting (diikuti nama anak yang hilang) metuo (keluarlah)”.
Nyanyian itu menjadi sebuah mantera yang mengelilingi kampung. nantinya, anak yang diculik itu akan muncul dengan sendirinya. Cerita hantu wewe gombel ini sering digunakan oleh orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak keluyuran ke luar rumah sendirian.

